Sabtu, 02 Februari 2013

Sinopsis Novel


JAZIRAH CINTA
Pengarang : Randu Alamsyah
Penerbit     : Zaman
Tahun        : 2008
Novel ini mengisahkan tentang perjalanan hidup seorang pemuda yang broken home, Syamsu. Ibunya bercerai dengan ayahnya dan kemudian menikah dengan laki-laki lain sedang ayahnya sekarang berubah menjadi pemabuk dan pemarah. Hal ini membuat Syamsu marah terhadap orangtuanya dan pergi dari rumah. Dia memulai pengembaraannya di Balikpapan bersama Kasim seorang perampok. Pada suatu waktu mereka mencuri kotak perhiasan kayu yang berisi intan, tapi Kasim tertangkap sedang Syamsu ditolong seorang pengembara yang sedang berdzikir di masjid dan menyuruh Syamsu pergi ke pesantren di Banjarmasin, di pesantren ini Syamsu bisa melupakan masa lalunya yang kelam dan menemukan kebahagian dengan merasakan nikmatnya dekat dengan tuhan. Di pesantren inilah Syamsu berkenalan dengan Lula seorang pelacur yang ingin belajar mengaji yang pada akhirnya mencintainya tapi pada saat yang sama ia akan dijodohkan dengan Salwa, anak ustadznya. Syamsu memahami jika dia berhubungan dengan Lula bukan merupakan pilihan yang baik, sehingga ia berusaha mencintai Salwa. Suatu malam Lula menjebaknya dan mengajaknya menikmati tubuhnya, tetapi dengan tegas Syamsu menolak walaupun sisi kelaki-lakiannyapun sedang bergejolak. Namun  pihak pesantren memergokinya dan menganggapnya telah berzina. Akhirnya Syamsu diusir dari pesantren dan ia pulang ke Sulawesi menemui ayah dan ibunya. Dalam beberapa bulan Syamsu menikmati kehidupan sebagai petani coklat bersama ayahnya. Pada suatu hari ia teringat barang curian yang masih ia simpan dan ia berniat mengembalikannya. Dalam perjalanan mengembalikan barang itu ia bertemu dengan teman akrabnya Isack yang ternyata anak pemilik barang itu. Selama ia menginap di rumah Isack, ia mengembalikan semangat adik Isack, Yunita yang terkena leukemia. Kisah hidupnya tidak semulus yang diharapkan; berliku, dipenuhi berbagai rintangan dan cobaan. Kendati begitu, Syamsu tetap menjunjung keyakinannya pada cinta yang tulus dan kuasa Allah. Akhirnya ia menemukan cinta sejati dari seorang gadis jelita berhati mulia dalam naungan cahaya ilahi. Yang pada akhirnya benih cinta muncul diantaranya sampai ke pelaminan .

STRATEGI PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA DAN SASTRA BANJAR


Strategi dalam mempertahankan bahasa dan sastra Banjar tidak lepas dari strategi pembinaan dan pengembangan bahasa dan sastra Banjar. Strategi pembinaan dan pengembangan bahasa dan sastra Banjar berpusat pada empat komponen utama: keluarga, pendidikan, masyarakat, dan pemerintah daerah . Kesemua komponen tersebut bersatu dan membentuk komunitas masyarakat sastra. Untuk dapat memajukan bahasa dan sastra daerah khususnya daerah Banjar, maka diperlukan kombinasi yang harmonis dan komunikasi yang tepat antara orangtua, pelajar, mahasiswa, pengajar, penulis, sastrawan, media, dan pemerintah daerah.
Pemanfaatan secara maksimal media cetak, elektronik, dan internet dapat membantu memajukan perkembangan bahasa dan sastra daerah, khususnya Banjar, baik dalam lingkup daerah maupun juga nasional. Untuk dapat mengembangkan bahasa dan sastra Banjar yang utama diperlukan adalah niat dari individu. Dengan sarana yang minim masih dapat untuk berkarya dan mendistribusikannya, selama kita berpikiran terbuka dan mau menerima perubahan dan perbedaan.
Strategi Pembinaan Bahasa dan Sastra Banjar
Pembinaan bahasa dan sastra dapat dilangsungkan dalam lingkup terkecil yaitu keluarga, sekolah sebagai sarana pendidikan, lingkungan bermasyarakat, dan pemerintahan.
1     Orangtua Sebagai Kontrol Budaya
Keluarga adalah ruang lingkup terkecil pada pendidikan dini seorang anak. Anak belajar bahasa pertamanya (bahasa ibu) dalam ruang lingkup ini, sebagai orangtua sudah seharusnya menanamkan nilai-nilai budaya daerah yang dimiliki. Dimulai dari percakapan sehari-hari dengan menggunakan bahasa Banjar, mengenalkan lagu-lagu daerah Banjar, hingga menceritakan dongeng pengantar tidur dari kekayaan sastra Banjar.
2     Mata Pelajaran Muatan lokal
Salah satu cara yang ditempuh pemerintah saat ini adalah dengan memasukkan mata pelajaran muatan lokal dalam kurikulum. Cara ini me-rupakan salah satu upaya strategis dalam membina budaya lokal daerah di bangku sekolah. Siswa dikenalkan dengan khazanah budaya lokal dan mempelajarinya lewat buku-buku maupun sarana dan prasarana lain yang dimiliki sekolah baik berupa audio (mendengarkan lagu-lagu daerah dari kaset tape, cd, dsb), visual (buku-buku, gambar, dsb) dan audiovisual (tayangan-tayangan teatrikal).
3     Penghilangan Bahasa Asing Pada Kurikulum Pendidikan di Tingkat Sekolah Dasar
Cara yang ditempuh pemerintah saat ini dengan menghilangkan bahasa asing pada pendidikan di tingkat SD dimaksudkan agar siswa pada masa kanak-kanak diharapkan menguatkan akar budaya lokal masyarakat. Pada usia dini anak-anak lebih mudah mempelajari hal-hal baru. Sebelum diperkenalkan dengan budaya asing, ada baiknya diperkuat terlebih dahulu akar budaya lokal anak. Sehingga kemampuan anak dalam memfilterisasi muatan budaya asing akan lebih kuat, tanpa menghilangkan akar budaya lokal yang ia miliki.
4     Tur Musium Daerah
Musium daerah merupakan tempat penyimpanan peninggalan-peninggalan bersejarah budaya lokal yang dimiliki oleh pemerintah daerah. Otak memiliki respon yang lebih untuk belajar dengan pengoptimalan panca indra. Dengan mengajak anak-anak untuk berkeliling dan melihat secara langsung benda-benda dan arsip-arsip kekayaan daerah semakin merangsang otak anak untuk lebih mengenal dan memahami budaya lokal daerah.
5     Tur Perpustakaan Daerah
Perpustakaan daerah merupakan salah satu tempat penyimpanan literatur daerah, di sini anak-anak bisa meminjam dan membaca buku-buku terkait bahasa dan sastra Banjar. Dengan memaksimalkan penggunaan perpustakaan maka anak terdidik untuk membaca. Budaya membaca sangatlah berpengaruh kuat dalam kegiatan keterampilan berbahasa, diharapkan dengan rajin membaca anak dapat menghasilkan suatu karya baru.
6     Sanggar Sastra
Mendidik anak tidak hanya dapat dilakukan di lingkup keluarga dan sekolah, dalam lingkup masyarakat dapat dilakukan pula kontrol budaya ini. Pengadaan wadah untuk penyaluran potensi dan bakat pun diperlukan, seperti misalnya dengan diadakannya sanggar sastra. Setiap ada kesempatan untuk tampil, misal acara festival budaya, dengan kesadaran diri masing-masing mereka mengajukan diri untuk memperkenalkan budaya daerah Banjar ke lingkup nasional.
7     Peringatan Bulan Bahasa
Bulan bahasa merupakan satu apresiasi pelajar dan masyarakat sastra baik dari lingkup lokal maupun nasional. Peringatan ini dilakukan untuk melestarikan budaya berbahasa, bersastra, dan berkesenian dalam kalangan pelajar maupun umum.
Strategi Pengembangan Bahasa dan Sastra Banjar
Pengembangan diharapkan hasil akhirnya adalah dapat memperluas, menambah, dan menghasilkan lebih baik dan lebih banyak lagi kekayaan bahasa dan sastra Banjar. Pengembangan juga dimaksudkan untuk memperkenalkan budaya lokal di mata nasional maupun internasional.
1     Penulisan Buku-Buku Literatur Bahasa Dan Sastra Banjar
Cara paling mudah dalam belajar adalah banyak membaca, karena membaca adalah jendela dunia. Diperlukan banyak buku dan literatur untuk memahami sebuah budaya. Masalah utama dalam pembinaan bahasa dan sastra lokal di sekolah adalah kurangnya buku yang terkait dan sesuai dengan usia pendidikan. Saat ini kamus bahasa Banjar yang digunakan hanya dari hasil tulisan Prof. Djebar Hapip, buku-buku yang digunakan di lingkup Sekolah Dasar dikemas dalam bentuk yang kurang menarik sehingga anak malas untuk membaca. Diketahui bahwa masa anak-anak adalah masa yang ceria dan penuh warna, jadi bacaan diharapkan memiliki visual yang baik berupa gambar, warna-warna menarik disesuaikan dengan usia perkembangan anak.
Dalam lingkup sastra dikatakan bahwa saat ini sebagai masa kebangkitan sastrawan Kal-Sel, karena semakin banyak buku yang diterbitkan, baik novel, kumpulan cerita, prosa, puisi, dsb.  Dalam ranah keilmuan pun semakin banyak buku yang diterbitkan seperti yang dilakukan oleh Prof. Djantera, Dr. Rafiek, dll. Kendati demikian masih terdapat kendala dalam penerbitan buku-buku tersebut, yaitu biaya produksi. Diharapkan mungkin suatu saat pemerintah daerah dapat memberikan solusi dalam masalah ini.
2     Jurnal Bahasa dan Sastra Banjar
Jurnal merupakan media penting dalam menyuguhkan hasil penelitian-penelitian yang berkualitas terkait Bahasa dan Sastra baik lokal maupun nasional. Jurnal merupakan suatu bentuk apresiasi terhadap seorang peneliti dalam ranah keilmuan yang mendalam. Oleh karena itu keabsahan teori dan penelitian yang dimuat dalam jurnal lebih diakui dalam kalangan keilmuan.
3     Seminar Bahasa dan Sastra Banjar
Seminar merupakan ajang penting untuk mempertemukan segala kalangan dari siswa, mahasiswa, pengajar, penulis, sastrawan, media, dan yang terkait dalam pendistribusian dan perluasan sastra baik lokal maupun nasional, bahkan di tingkat internasional. Baru-baru ini Universitas Lambung Mangkurat mengadakan seminar bertaraf nasional, narasumber mengajukan hasil pemikiran masing-masing dari hasil penelitian dan didiskusiakan dalam forum ilmiah terbuka. Narasumber yang mengisi acara merupakan seorang tokoh sastra terkenal di Indonesia. Hal ini tentunya sangat bermanfaat dalam mempertemukan setiap kalangan yang memiliki keinginan yang sama dalam memajukan bahasa dan sastra daerah ke mata nasional maupun internasional.
4     Aruh Sastra
Arus sastra merupakan ajang berkumpulnya sastrawan, penulis, kritikus lokal di Kalimantan selatan dalam kurun yang terjadwal dan terorganisir.
Dalam ajang ini semua kalangan diikutsertakan baik dari tingkat sekolah hingga kuliah, umum, dan yang telah berpengalaman. Mereka turut serta dalam andil untuk memajukan sastra yang ada di Kalimantan Selatan melalui dialog, sharing pengalaman, pembacaan puisi, dsb. Dan dalam ajang ini juga dilakukan lomba-lomba terkait penulisan puisi, cerpen, maupun kritik terhadap sebuah karya, yang tentunya milik sastrawan lokal. Hal ini dimaksudkan untuk menjaring dan mencari bakat baru dari pemuda asal Banjar dalam lingkup sastra.

Perkembangan Bahasa dan Sastra Banjar


PERKEMBANGAN BAHASA DAN SASTRA BANJAR 
Bahasa dan sastra lisan Banjar pernah tumbuh berkembang dengan baik, bahkan mampu bertahan hingga berabad-abad lamanya. Bahasa dan sastra lisan selalu disampaikan dari mulut ke mulut oleh satu generasi kepada generasi berikutnya. Sastra lebih berperan sebagai sarana pengajaran atau media pewarisan nilai-nilai budaya ketimbang sebagai hiburan, meski fungsi yang terakhir ini juga tidak terabaikan sama sekali oleh karena kehadirannya memang saling mendukung. Pada masa itu, para orang tua mengajarkan etika, ilmu, dan agama melalui simbol-simbol yang tersusun dalam rangkaian cerita maupun petatah-petitih dan ungkapan budaya lainnya (baik dalam bentuk puisi maupun prosa), dengan cara-cara yang menyenangkan kepada anak-anak mereka. Situasi pengajaran semacam itu bisa berlangsung secara kolektif dalam suatu pesta rakyat (semisal melalui tradisi bakisah, mamanda, madihin, balamut, atau japin carita) maupun secara individual di lingkungan keluarga masing-masing (misalnya dalam tradisi basair dan bakisah (khususnya dongeng pengantar tidur).
Namun, seiring dengan masuknya peradaban modern yang antara lain ditandai dengan perkembangan tradisi baca-tulis bahasa Indonesia dan semakin mantapnya bangunan keberaksaraan, perkembangan Bahasa dan Sastra Banjar kurang lebih sama dengan perkembangan bahasa dan sastra daerah pada umumnya. Kondisinya cenderung terpinggirkan, bahkan nyaris terlupakan. Tercapainya kesatuan dan persatuan bangsa seakan mengarah pada penyeragaman ke dalam ke-Indonesiaan.
Tantangan utama dalam perkembangan bahasa dan sastra Banjar adalah perkembangan peradaban yang kian pesat tanpa kontrol yang mampu menyeimbangkan masukan dari luar. Westernisasi dan modernisasi merupakan faktor-faktor yang dapat mengakibatkan terkikisnya bahasa dan sastra Banjar. Masuknya budaya luar dengan beragam bahasa dan keunikan budayanya masing-masing, perlahan tapi pasti mulai mengakar dan akhirnya menggeser muatan budaya lokal. Pergeseran pemakaian bahasa Banjar tidak bisa dipungkiri telah terjadi dengan pemakaian bahasa gaul dan bahasa Inggris di masyarakat Banjar, terutama di kalangan remaja perkotaan, sekarang malah sudah merambah ke masyarakat di daerah pesisir maupun di daerah pedesaan Provinsi Kalimantan Selatan.
Tetapi patut disyukuri bahwa bahasa dan sastra lisan Banjar sebagai salah satu khazanah daerah yang sangat kaya dan merupakan warisan budaya yang tak ternilai harganya kondisinya masih belum kritis. Dalam arti, eksistensinya masih dirasakan sampai sekarang. Sastra Banjar bukanlah sastra daerah yang perkembangannya paling menonjol dan bukan pula yang paling terbelakang. Sebab, pada satu sisi, dalam berbagai perbincangan tentang sastra daerah selama ini (lebih-lebih jika pembahasan itu sudah menyentuh sastra modernnya), maka sastra Banjar, Sunda, dan Bali merupakan sastra-sastra daerah yang paling sering dibicarakan. Pada sisi lain, eksistensi sastra daerah lainnya yang jumlahnya begitu besar hampir tak pernah kita dengar gaungnya. Karena Banjar terlalu lama dipengaruhi oleh budaya lisan. Budaya lisan telah melahirkan tradisi-tradisi lisan lain yang berurat berakar. Sehingga jika ada tangan-tangan kreatif generasi muda yang menyentuh bahasa dan sastra lisan Banjar, masih besar harapan ke depan bahasa dan sastra Banjar akan kembali eksis dan lebih bermanfaat baik di kalangan masyarakat Banjar itu sendiri maupun masyarakat Indonesia bahkan internasional (Insya allah).
Pementasan mamanda  adalah salah satu cara untuk mempertahankan eksistensi pemakaian bahasa Banjar  dan pelestarian sastra lisan banjar. Begitu juga halnya dengan Lamut dan Madihin. Kita perlu optimis dengan banyak strategi yang telah dilakukan pemerintah daerah, sastrawan, dan masyarakat yang peduli dengan eksistensi bahasa dan sastra Banjar. Dengan berbagai perhelatan bernuansa bahasa dan sastra Banjar, lomba-lomba, bahkan kurikulum muatan local yang memuat budaya, bahasa, dan sastra Banjar, di masa yang akan datang bahasa dan Budaya Banjar masih akan tetap bertahan dan terjaga kelestariannya.