Sabtu, 02 Februari 2013

STRATEGI PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA DAN SASTRA BANJAR


Strategi dalam mempertahankan bahasa dan sastra Banjar tidak lepas dari strategi pembinaan dan pengembangan bahasa dan sastra Banjar. Strategi pembinaan dan pengembangan bahasa dan sastra Banjar berpusat pada empat komponen utama: keluarga, pendidikan, masyarakat, dan pemerintah daerah . Kesemua komponen tersebut bersatu dan membentuk komunitas masyarakat sastra. Untuk dapat memajukan bahasa dan sastra daerah khususnya daerah Banjar, maka diperlukan kombinasi yang harmonis dan komunikasi yang tepat antara orangtua, pelajar, mahasiswa, pengajar, penulis, sastrawan, media, dan pemerintah daerah.
Pemanfaatan secara maksimal media cetak, elektronik, dan internet dapat membantu memajukan perkembangan bahasa dan sastra daerah, khususnya Banjar, baik dalam lingkup daerah maupun juga nasional. Untuk dapat mengembangkan bahasa dan sastra Banjar yang utama diperlukan adalah niat dari individu. Dengan sarana yang minim masih dapat untuk berkarya dan mendistribusikannya, selama kita berpikiran terbuka dan mau menerima perubahan dan perbedaan.
Strategi Pembinaan Bahasa dan Sastra Banjar
Pembinaan bahasa dan sastra dapat dilangsungkan dalam lingkup terkecil yaitu keluarga, sekolah sebagai sarana pendidikan, lingkungan bermasyarakat, dan pemerintahan.
1     Orangtua Sebagai Kontrol Budaya
Keluarga adalah ruang lingkup terkecil pada pendidikan dini seorang anak. Anak belajar bahasa pertamanya (bahasa ibu) dalam ruang lingkup ini, sebagai orangtua sudah seharusnya menanamkan nilai-nilai budaya daerah yang dimiliki. Dimulai dari percakapan sehari-hari dengan menggunakan bahasa Banjar, mengenalkan lagu-lagu daerah Banjar, hingga menceritakan dongeng pengantar tidur dari kekayaan sastra Banjar.
2     Mata Pelajaran Muatan lokal
Salah satu cara yang ditempuh pemerintah saat ini adalah dengan memasukkan mata pelajaran muatan lokal dalam kurikulum. Cara ini me-rupakan salah satu upaya strategis dalam membina budaya lokal daerah di bangku sekolah. Siswa dikenalkan dengan khazanah budaya lokal dan mempelajarinya lewat buku-buku maupun sarana dan prasarana lain yang dimiliki sekolah baik berupa audio (mendengarkan lagu-lagu daerah dari kaset tape, cd, dsb), visual (buku-buku, gambar, dsb) dan audiovisual (tayangan-tayangan teatrikal).
3     Penghilangan Bahasa Asing Pada Kurikulum Pendidikan di Tingkat Sekolah Dasar
Cara yang ditempuh pemerintah saat ini dengan menghilangkan bahasa asing pada pendidikan di tingkat SD dimaksudkan agar siswa pada masa kanak-kanak diharapkan menguatkan akar budaya lokal masyarakat. Pada usia dini anak-anak lebih mudah mempelajari hal-hal baru. Sebelum diperkenalkan dengan budaya asing, ada baiknya diperkuat terlebih dahulu akar budaya lokal anak. Sehingga kemampuan anak dalam memfilterisasi muatan budaya asing akan lebih kuat, tanpa menghilangkan akar budaya lokal yang ia miliki.
4     Tur Musium Daerah
Musium daerah merupakan tempat penyimpanan peninggalan-peninggalan bersejarah budaya lokal yang dimiliki oleh pemerintah daerah. Otak memiliki respon yang lebih untuk belajar dengan pengoptimalan panca indra. Dengan mengajak anak-anak untuk berkeliling dan melihat secara langsung benda-benda dan arsip-arsip kekayaan daerah semakin merangsang otak anak untuk lebih mengenal dan memahami budaya lokal daerah.
5     Tur Perpustakaan Daerah
Perpustakaan daerah merupakan salah satu tempat penyimpanan literatur daerah, di sini anak-anak bisa meminjam dan membaca buku-buku terkait bahasa dan sastra Banjar. Dengan memaksimalkan penggunaan perpustakaan maka anak terdidik untuk membaca. Budaya membaca sangatlah berpengaruh kuat dalam kegiatan keterampilan berbahasa, diharapkan dengan rajin membaca anak dapat menghasilkan suatu karya baru.
6     Sanggar Sastra
Mendidik anak tidak hanya dapat dilakukan di lingkup keluarga dan sekolah, dalam lingkup masyarakat dapat dilakukan pula kontrol budaya ini. Pengadaan wadah untuk penyaluran potensi dan bakat pun diperlukan, seperti misalnya dengan diadakannya sanggar sastra. Setiap ada kesempatan untuk tampil, misal acara festival budaya, dengan kesadaran diri masing-masing mereka mengajukan diri untuk memperkenalkan budaya daerah Banjar ke lingkup nasional.
7     Peringatan Bulan Bahasa
Bulan bahasa merupakan satu apresiasi pelajar dan masyarakat sastra baik dari lingkup lokal maupun nasional. Peringatan ini dilakukan untuk melestarikan budaya berbahasa, bersastra, dan berkesenian dalam kalangan pelajar maupun umum.
Strategi Pengembangan Bahasa dan Sastra Banjar
Pengembangan diharapkan hasil akhirnya adalah dapat memperluas, menambah, dan menghasilkan lebih baik dan lebih banyak lagi kekayaan bahasa dan sastra Banjar. Pengembangan juga dimaksudkan untuk memperkenalkan budaya lokal di mata nasional maupun internasional.
1     Penulisan Buku-Buku Literatur Bahasa Dan Sastra Banjar
Cara paling mudah dalam belajar adalah banyak membaca, karena membaca adalah jendela dunia. Diperlukan banyak buku dan literatur untuk memahami sebuah budaya. Masalah utama dalam pembinaan bahasa dan sastra lokal di sekolah adalah kurangnya buku yang terkait dan sesuai dengan usia pendidikan. Saat ini kamus bahasa Banjar yang digunakan hanya dari hasil tulisan Prof. Djebar Hapip, buku-buku yang digunakan di lingkup Sekolah Dasar dikemas dalam bentuk yang kurang menarik sehingga anak malas untuk membaca. Diketahui bahwa masa anak-anak adalah masa yang ceria dan penuh warna, jadi bacaan diharapkan memiliki visual yang baik berupa gambar, warna-warna menarik disesuaikan dengan usia perkembangan anak.
Dalam lingkup sastra dikatakan bahwa saat ini sebagai masa kebangkitan sastrawan Kal-Sel, karena semakin banyak buku yang diterbitkan, baik novel, kumpulan cerita, prosa, puisi, dsb.  Dalam ranah keilmuan pun semakin banyak buku yang diterbitkan seperti yang dilakukan oleh Prof. Djantera, Dr. Rafiek, dll. Kendati demikian masih terdapat kendala dalam penerbitan buku-buku tersebut, yaitu biaya produksi. Diharapkan mungkin suatu saat pemerintah daerah dapat memberikan solusi dalam masalah ini.
2     Jurnal Bahasa dan Sastra Banjar
Jurnal merupakan media penting dalam menyuguhkan hasil penelitian-penelitian yang berkualitas terkait Bahasa dan Sastra baik lokal maupun nasional. Jurnal merupakan suatu bentuk apresiasi terhadap seorang peneliti dalam ranah keilmuan yang mendalam. Oleh karena itu keabsahan teori dan penelitian yang dimuat dalam jurnal lebih diakui dalam kalangan keilmuan.
3     Seminar Bahasa dan Sastra Banjar
Seminar merupakan ajang penting untuk mempertemukan segala kalangan dari siswa, mahasiswa, pengajar, penulis, sastrawan, media, dan yang terkait dalam pendistribusian dan perluasan sastra baik lokal maupun nasional, bahkan di tingkat internasional. Baru-baru ini Universitas Lambung Mangkurat mengadakan seminar bertaraf nasional, narasumber mengajukan hasil pemikiran masing-masing dari hasil penelitian dan didiskusiakan dalam forum ilmiah terbuka. Narasumber yang mengisi acara merupakan seorang tokoh sastra terkenal di Indonesia. Hal ini tentunya sangat bermanfaat dalam mempertemukan setiap kalangan yang memiliki keinginan yang sama dalam memajukan bahasa dan sastra daerah ke mata nasional maupun internasional.
4     Aruh Sastra
Arus sastra merupakan ajang berkumpulnya sastrawan, penulis, kritikus lokal di Kalimantan selatan dalam kurun yang terjadwal dan terorganisir.
Dalam ajang ini semua kalangan diikutsertakan baik dari tingkat sekolah hingga kuliah, umum, dan yang telah berpengalaman. Mereka turut serta dalam andil untuk memajukan sastra yang ada di Kalimantan Selatan melalui dialog, sharing pengalaman, pembacaan puisi, dsb. Dan dalam ajang ini juga dilakukan lomba-lomba terkait penulisan puisi, cerpen, maupun kritik terhadap sebuah karya, yang tentunya milik sastrawan lokal. Hal ini dimaksudkan untuk menjaring dan mencari bakat baru dari pemuda asal Banjar dalam lingkup sastra.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar